Terkait Insiden di Masjid Agung Cilegon, Ini Kata Wakapolres dan Pengakuan Ibu Pelaku

7618

CILEGON, BCO.CO.ID – Publik di Kota Cilegon dengan adanya penyerangan imam yang sedang memimpin shalat magrib di Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon, yang berlokasi di depan Rumah Dinas Walikota Cilegon, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon pada Senin 6 September 2021 kemarin.

Dalam rekaman CCTV yang beredar di media sosial, seorang pemuda berinisial ES (25) yang hanya memakai celana dalam masuk ke area masjid dan langsung menuju tempat imam kemudian membuat gaduh jamaah yang saat itu sedang beribadah. ES kemudian dibekuk para jamaah masjid lalu diserahkan ke Pos Koramil hingga akhirnya dibawa ke Mapolsek Cilegon Kota.

Wakapolres Cilegon Kompol Mi’rodin membenarkan adanya peristiwa itu, namun ia meluruskan kabar yang beredar yang menyebut adanya penyerangan kepada imam masjid. Berdasarkan hasil pemeriksaan di pihak kepolisian dan diperkuat dengan keterangan ibunda ES, pelaku dipastikan sedang mengalami gangguan kejiwaan.

Hal itu juga diperkuat dengan adanya bukti rekam medis dari dokter yang dibawa keluarga ES. Kejadian tersebut diketahui terjadi pada Senin petang 06 September 2021.

“Rakaat terakhir (ES-Red) langsung menerobos kepada para jamaah yang masih prosesi shalat magrib. Tiba-tiba berada di depan imam masjid dan menghentikan shalat itu dan bilang shalatnya mereka (Jamaah-Red) tidak sah,” kata Kompol. Mi’rodin, Wakapolres Cilegon kepada wartawan di Mapolres Cilegon, Rabu 08 September 2021.

Wakapolres kembali memperjelas, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pelaku serta saksi yang ada di lokasi dan pihak dokter RSUD Kota Cilegon bahwa dibenarkan ES mengalami gangguan kejiwaan. Ia juga menegaskan, tidak ada penyerangan kepada imam masjid saat kejadian tersebut. “Tidak ada penyerangan, saudara ES juga tidak membawa barang-barang berbahaya, hanya bilang kalau shalat mereka salah dan diminta bubar,” pungkasnya.

Sementara itu di tempat sama, Suryati, ibunda ES membeberkan bahwa anak pertamanya itu telah mengalami gangguan kejiwaan dari sebulan yang lalu. ES dulunya bekerja sebagai penjaga toko di dekat masjid tersebut dan kerap mengamuk tak jelas. “Anak saya emang lagi gangguan jiwa dari sebulan lalu,” kata Suryati.

Sebelum terjadi peristiwa itu, diakui Suryati, ES selalu bilang kondisinya telah sembuh dan meminta untuk bekerja kembali tetapi tak pernah diizinkan olehnya dan kelurganya. Suryati juga tidak mengetahui anaknya melakukan perbuatan yang mengegerkan publik Kota Cilegon tersebut. Untuk menghindari kejadian serupa, saat ini ES dikurung di rumahnya. “Enggak tahu, saya tahunya di telpon Pak RT. Sekarang di rumah saya ikat,” terangnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Suryati, pihaknya bakal membawa ES ke rumah sakit jiwa dan mencari pengobatan lain di wilayah Wonosobo, Jawa Tengah. “Tanggal 21 September mau dibawa pulang ke jawa, kalau disininya udah stabil kan bawa-bawa orang kayak gitukan takut ngamuk, disinikan lagi diobatin sama dokter,” tutup Suryati. []

0Shares